"Ketahuilah! sesungguhnya di dalam badan terdapat sekerat daging. Apabila baik sekerat daging tersebut maka akan baik pula seluruh anggota badan, namun apabila rusak maka akan rusak pula seluruh anggota badan. Ketahuilah! sekerat daging tersebut adalah hati." [1]
Rasulullah telah menjadikan hati sebagai pokok dari segala sesuatu, termasuk dalam hal menuntut ilmu, karena hati merupakan tampungan ilmu. Apabila tampungan tersebut baik, maka akan menyimpan dan menjaga apa yang ada di dalamnya, dan begitu juga sebaliknya, jika tampungan tersebut rusak maka akan merusak apa yang ada di dalamnya.
Kejernihan hati dapat terwujud dengan cara mengenal sang pencipta kehidupan, Alllah Azza wa Jalla, baik mengenal sifat maupun perbuatanNYA. Selain itu dapat ditempuh juga dengan cara memikirkan keagungan ayat-ayat Al-Qur'an serta mentadabburinya, banyak melakukan shalat malam dan masih banyak lagi yang semisalnya.
Yang terpenting dalam menjaga kejernihan hati adalah dengan menjauhi hal-hal yang merusak hati serta penyakit-penyakitnya. karena apabila hal tersebut samapi dijumpai dalam hati, maka hati tidak akan mampu membawa ilmu, kalupun sanggup maka tidak akan mampu memahami ilmu yang ia bawa.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Qur'an surat Al-A'raaf: 179 tentang orang-orang munafik yang hatinya berpenyakit, yang artinya:
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mepunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."
[1]: H.R. Bukhari (2051), Muslim (1599, 107, 108), Ahmad (4/267), Abu Dawud (3229) dan Nasa'i (7/241)

















