Jumat, 31 Desember 2010

Hati yang Jernih

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Ketahuilah! sesungguhnya di dalam badan terdapat sekerat daging. Apabila baik sekerat daging tersebut maka akan baik pula seluruh anggota badan, namun apabila rusak maka akan rusak pula seluruh anggota badan. Ketahuilah! sekerat daging tersebut adalah hati." [1]

Rasulullah telah menjadikan hati sebagai pokok dari segala sesuatu, termasuk dalam hal menuntut ilmu, karena hati merupakan tampungan ilmu. Apabila tampungan tersebut baik, maka akan menyimpan dan menjaga apa yang ada di dalamnya, dan begitu juga sebaliknya, jika tampungan tersebut rusak maka akan merusak apa yang ada di dalamnya.

Kejernihan hati dapat terwujud dengan cara mengenal sang pencipta kehidupan, Alllah Azza wa Jalla, baik mengenal sifat maupun perbuatanNYA.  Selain itu dapat ditempuh juga dengan cara memikirkan keagungan ayat-ayat Al-Qur'an serta mentadabburinya, banyak melakukan shalat malam dan masih banyak lagi yang semisalnya.

Yang terpenting dalam menjaga kejernihan hati adalah dengan menjauhi hal-hal yang merusak hati serta penyakit-penyakitnya. karena apabila hal tersebut samapi dijumpai dalam hati, maka hati tidak akan mampu membawa ilmu, kalupun sanggup maka tidak akan mampu memahami ilmu yang ia bawa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Qur'an surat Al-A'raaf: 179 tentang orang-orang munafik yang hatinya berpenyakit, yang artinya:
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mepunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."


[1]: H.R. Bukhari (2051), Muslim (1599, 107, 108), Ahmad (4/267), Abu Dawud (3229) dan Nasa'i (7/241)

Minggu, 19 Desember 2010

Tunduk, Berserah Diri kepada Allah serta Memohon Taufik dan Kekokohan

Allah 'Azza wa Jalla sangat menganjurkan hamba-hambaNya untuk berdoa dengan penuh ketundukan dan kerendahan hati. Allah 'Azza wa Jalla berfirman yang artinya:

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina." (Q.S. Al-Mukmin: 60)

dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya Rabb kita turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir seraya mengatakan: "Barangsiapa yang berdo'a kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan! Barangsiapa yang meminta kepadaKu niscaya akan Aku penuhi permintaannya! Dan siapa yang meminta ampun kepadaKu niscaya Aku ampuni!"[1]

Allah 'Azza wa Jalla telah memerintahkan Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam untuk meminta tambahan ilmu, Allah berfirman dalam Q.S. Thaaha ayat 114 yang artinya:

"Dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."

Para ulama senantiasa berada di atas perilaku ini, tunduk dan meminta ilmu kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.

[1] H.R. Bukhari (1094, 5962) dan Muslim (758)


Niat yang Ikhlas



Dalam menuntut ilmu hendaknya seseorang itu mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah 'Azza wa Jalla, serta tidak sum'ah (agar didengar dan dipuji oleh orang lain), serta tidak untuk terkenal dan tidak pula untuk mendapatkan harta benda dunia. Barangsiapa yang mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah dalam menuntut ilmu, niscaya Allah akan memberinya taufik dan pahala atas hal tersebut, karena menuntut ilmu adalah ibadah, bahkan merupakan ibadah yang paling agung. Orang yang berbuat riya' dalam menuntut ilmu hanya akan menambah kerugiannya di dunia akrena ia akan mendapat siksa kelak di akhirat sebagaimana kisah tiga orang yang diseret ke neraka di atas wajah-wajah mereka. salah satu diantaranya adalah seseorang yang menuntut ilmu agar dikatakan sebagai seorang yang 'alim.

Jumat, 17 Desember 2010

Memohon Pertolongan Kepada Allah

Manusia adalah makhluk yang sangat lemah, tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah. Apabila dia bersandar kepada dirinya sendiri, niscaya dia akan hancur dan binasa, namun apabila dia mau bersandar serta memohon pertolongan kepada Allah dalam menuntut ilmu niscaya Allah akan memberikan pertolongan kepadanya. Sesungguhnya Allah telah menganjurkan hal ini dalam kitab-Nya yang mulia. Allah berfirman dalam Qur'an surat Al-Fatihah : 5 yang artinya:

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan."

Selain itu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya:

"Seandainya kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya niscaya Allah akan memberikan rezki kepada kalian sebagaimana Allah memberikan rezki kepada burung, pagi hari berangkat dalam keadaan temboloknya kosong (lapar), sore hari kembali dalam keadaan temboloknya penuh dengan makanan." [1]

Dan rejeki yang paling besar adalah ilmu. Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam senantiasa bertawakkal dan memohon pertolongan kepada Allah dalam segala urusannya. 


[1] Hadits hasan, dikeluarkan oleh Imam Ahmad (1, 30 dan 52), At-Tirmidzi (3344), Al-Imam An-Nasa'i dalam "Al-Kubra", Ibnu Majah (4164), Ibnu Hibban (730) dan Al-Hakim (4/318) dari sahabat Umar bin Al-Khathab. Hadits ini dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam "Ash-Shahih Al-Musnad" no. 982 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam "Ash-Shahihah" no. 310.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More